Selasa, Februari 10, 2009

Berpura-pura

Semalam istriku dan Nasywa tengah menata buku Halo Balita dan Ensiklopedi Bocah Muslim milik Nasywa ke tempatnya. Sementara Umar asyik main sendiri dan terkadang malah merusak tatanan yang sudah ada.

Aku tiduran di lantai beralas selimut. Mungkin karena sisa lelah belum hilang, aku malah tertidur lelap. Belum lama terlelap, aku tergagap bangun karena ada bau tidak enak di dekatku. Ternyata Umar BAB di diapers-nya.

“Ayo Le Abi bersihkan,” kataku seraya bangkit dari tidurku di lantai.

Umar bangkit dan lari masuk ke dalam kamar tidur.

Aku teringat kalau pintu depan belum terkunci, karena itu aku ke ruang tamu untuk menguncinya. Mendengar bunyi kunci diputar, Umar berlari ke depan. Aku yakin dia berpikir aku mau pergi, dan seperti biasa dia tidak akan mau ketinggalan. Selesai mengunci pintu aku kembali ke belakang. Umar sudah sampai di ruang tengah.

“Ayo dibersihkan,” kembali aku mengajak Umar yang ada di hadapanku.

Ajakanku itu malah membuat Umar balik kucing dan kembali masuk ke kamar tidur. Aku ikuti langkah Umar. Di dalam kamar aku lihat Umar langsung naik ke tempat tidur dan langsung meringkuk dan memejamkan matanya pura-pura tidur.

Sembari tertawa aku tunjukkan yang tengah dilakukan Umar kepada istriku yang kebetulan ada di depan pintu kamar tidur. Istriku juga ikut tertawa.

Dengan gemas aku angkat Umar menuju kamar mandi dan beberapa saat aku lihat dia masih pura-pura tidur di gendonganku.

Le...le..., kamu itu lho belum 2 tahun. Memangnya siapa yang ngajari seperti itu?” tanyaku retoris.

Jumat, Januari 23, 2009

Hari Ulang Tahun Nasywa Tanpa Nasywa

Tidak enak juga rasanya di hari ulang tahunnya yang ke-5, kemarin, Nasywa tidak ada di tengah-tengah kami bertiga.

Karena libur sekolah, sejak 2 hari yang lalu Nasywa di rumah neneknya di Tulungagung.

Kemarin ummi’nya nelpon dia tapi dia tidak mau berbicara lewat telepon, malu katanya.

Kamis, Januari 22, 2009

Bangsa Yang Tak Punya Identitas

Kalau ada pertanyaan, bagaimanakah cara yang termudah mengenali seseorang itu adalah orang Indonesia?

Saya pribadi tidak akan serta merta bisa menjawab pertanyaan itu, karena memang saya tidak menemukan kekhasan pada manusia yang bernama orang Indonesia itu.

Berbeda kalau pertanyaan yang sama diajukan dengan konteks yang berbeda.

Misal obyek pertanyaannya adalah orang Arab, orang India, bahkan mungkin orang Pakistan. Saya akan jawab itu orang India karena memakai belitan kain khas di atas kepalanya, atau pakai sorban dengan pengikat di kepalanya sebagai orang Arab, atau juga saya pastikan itu orang Pakistan karena memakai baju yang sekilas seperti baju koko yang sering kita pakai waktu sholat.

Apakah orang Indonesia itu yang memakai blangkon? Saya jawab tidak, itu orang Jawa. Yang pakai ulos? Itu orang Batak.

Menurut saya, karena tidak punya identitas yang jelas itu, maka orang Indonesia sangat mudah terbawa arus, dalam banyak hal. Contohnya ini:

Rabu, Januari 14, 2009

Kamis, Januari 08, 2009

Perang Cerdas Modal Hamas


Jawa Pos - Kamis, 08 Januari 2009

Oleh: Ridlwan *

Hari Sabath (Sabtu), hari yang dikuduskan kaum Yahudi diingkari sendiri oleh tentara Israel. Di hari larangan membunuh, bepergian, dan berdagang itu, pasukan darat negeri zionis resmi menyerang Gaza, Palestina. Mereka disambut meriah dengan rudal-rudal jarak dekat pejuang Hamas (Haraqah Al Muqawamah Al Islamiyah, Gerakan Perlawanan Islam).

Pemimpin Hamas Khalid Misyal dari pos komandonya di Syiria sudah memerintahkan setiap pejuang Hamas melawan. Khalid menjanjikan neraka bagi setiap tentara Israel yang menginjak tanah Gaza. Mengapa Hamas begitu berani ?

Padahal, dari hitung-hitungan matematika pertahanan, kekuatan dua pasukan sangat timpang. Bagai bumi dan langit. Israel Defence Forces (IDF, angkatan bersenjata Israel) setidaknya berkekuatan 176 ribu infanteri bersenjata lengkap. IDF juga mendapat dukungan serangan udara dari 286 helikopter serbu, dan 875 jet tempur berkecepatan supersonik. Juga, 2800 tank dan 1.800 senjata artileri (meriam, rudal, peluncur roket) yang semuanya on load (siap digunakan).

Sebaliknya, Hamas hanya berkekuatan maksimal 20.000 pejuang. Tanpa pesawat tempur, jet, atau helikopter patroli satu pun. Mereka hanya memakai roket Al Banna dan Al Yaasin, modifikasi rudal PG-2 Rusia yang mampu menghancurkan tank Merkava dalam radius 500 meter. Roket lainnya, yang juga hasil modifikasi, maksimal hanya bisa meluncur 55 kilometer. Itu hanya cukup sampai Kota Sderoth, yang bukan jantung komando Israel.

Untuk pertahanan anti serangan udara, mereka mengandalkan rudal Rayyan, modifikasi dari rudal SA-7 Rusia yang dulu digunakan Hizbullah (Lebanon) untuk merontokkan helikopter dan UAV Israel.

Tak Percaya Statistik

Tapi, Hamas memang tak pernah percaya statistik. Apalagi cuma di atas kertas. Buktinya, sejak didirikan Syekh Ahmad Yasin pada 14 Desember 1987, Hamas terus membesar.

Untuk melawan Israel, Hamas membentuk sayap militer Brigade Izzudin Al Qassam. Anggotanya harus melalui seleksi superketat. Mereka diambil dari pemuda-pemuda yang lulus ujian akhlak dan keimanan.

Para recruiter Al Qassam, misalnya, akan mencari calon pejuang dari jamaah salat Subuh di masjid-masjid Gaza dan seluruh kawasan Tepi Barat. Pemuda yang tak pernah ketinggalan salat Subuh berjamaah adalah bibit terbaik prajurit Hamas. Jadi, pemuda Palestina yang suka merokok, apalagi bau minuman keras, jangan harap bisa diterima sebagai personel Al Qassam.

Prajurit ikhlas dan bebas maksiat memang jadi modal utama. Sebab, Hamas yakin kemenangan tak semata-mata hitungan senjata, tapi juga faktor "langit". Mereka percaya dengan perlindungan malaikat yang sudah tahu siapa yang bakal unggul. Seperti saat 300 prajurit Nabi Muhammad sukses melawan 1.300 musuh dalam Perang Badar (2 Hijriah).

Sikap itu buah didikan gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan Hasan Al Banna di Mesir pada 1948. Syekh Yasin adalah kader IM sejak dipenjara karena ceramahnya pada 1965. Di penjara, putra Palestina asli kelahiran Desa Jaurah, 20 kilometer utara Gaza 1936 itu, bergabung dengan cabang IM Palestina yang berdiri pada 1935. Yasin syahid diterjang rudal Israel pada subuh, 22 Maret 2004.

Maka, pola latihan Al Qasaam juga pengembangan dari Nizham Khash (Biro Khusus) IM yang dibentuk di Kairo, Mesir, 1940. Pada perang Arab-Israel pertama 1948, Nizham mengirim 3.000 prajuritnya melawan Israel. Nizham juga berperan dalam perang Terusan melawan Inggris, 1951. Dalam aktivitas keseharian, Nizham memakai sistem sel tertutup. Satu anggota tak mengenal anggota lain, kecuali dalam satu usroh (grup) yang terdiri atas tujuh sampai 10 orang.

Dalam kitab At Tarbiyah As Siyasiyah 'Inda Jamaah Al Ikhwan Al Muslimin karangan Utsman Abdul Mu'iz Ruslan (diterjemahkan Era Intermedia, Solo, 2000) halaman 575-583, latihan Nizham dijabarkan dengan detail. Di antaranya, mereka mempelajari bela diri, senjata api, perang gerilya, bom dan bahan peledak, topografi, menyelam, serta infiltrasi (penyusupan) militer.

Mereka juga ahli ilmu sandi, terlatih memublikasikan selebaran (propaganda) dan punya data semua institusi Yahudi di Mesir dan Timur Tengah. Selain itu, anggota Nizham mempelajari tafsir Alquran, menghafal 40 hadits Imam Nawawi, berpuasa sunah, dan disiplin membaca Alquran minimal 1 juz per hari.

Sistem Nizham ditiru Al Qassam. Bekal mental penting karena tiap hari mereka diburu pasukan khusus Israel, Sayerat Matkal. Tapi, kematian memang jadi slogan impian tiap anggota Hamas (as syahid asma' amanina). Yang sudah meraihnya akan di-upload di situs resmi www.alqassam.ps.

Selain operasi militer, Hamas berhadapan dengan agen intelijen terhebat sedunia HaMossad leModi'in uleTafkidim Meyuhadim (Mossad). Guru MI5 Inggris dan CIA itu amat piawai menyaru rupa. Seorang agen Mossad bisa tampil bersurban dan berjenggot laksana Syeikh, tapi berceramah tentang hidup damai bersama Israel.

Agen Mossad juga bisa tampil perlente layaknya Bernard Madoff, konglomerat perayu kelas kakap yang sukses menciptakan krisis finansial dunia. Senyum manis ditambah taburan dolar bisa membuat politisi parlemen dan berbagai faksi politik lain di Palestina pecah belah teradu domba.

Untuk melawan Mossad, Hamas mengandalkan dukungan total dari rakyat Palestina. Hamas memang tinggal bersama mereka. Hamas membantu rakyat saat krisis pangan, menjadi guru madrasah anak-anak mereka, dan membangun terowongan jalur penyelundupan bawah tanah Rafah (Mesir)-Gaza agar bayi-bayi Palestina punya susu untuk diminum. Hamas juga santun kepada 3.000 warga Kristiani di Gaza. Tak heran, dalam pemilu pada 25 Januari 2006, Hamas meraup suara terbanyak.

Mereka juga punya koneksi gerakan di luar negeri yang solid. Ulama Hamas Dr Nawwaf Takruri, dosen Universitas An-Najah Nablus, bahkan pernah berceramah di Masjid As Syukur, 200 meter sebelah selatan kantor Graha Pena, Jawa Pos, Jakarta pada November 2007. Dalam perang kali ini, mereka juga dibantu faksi jihad lain di Gaza.

Karena itu, banyak pengamat militer menilai agresi ini bakal sambung menyambung sepanjang 2009. Sebab, kader-kader Hamas di Palestina dan seluruh dunia sudah berjanji tak akan mengerek bendera putih. Mereka yang hanya punya batu akan terus melempar, roket akan terus diluncurkan, dan senjata-senjata selundupan sudah terkokang.

Mereka yang tak bisa datang ke medan perang, akan menyumbang harta, tulisan propaganda, dan doa-doa sepanjang malam. PM Israel Ehud Olmert, Menhan Ehud Barak, dan Menlu Tzipi Livni, tampaknya bakal gigit jari lagi.

*. Ridlwan, wartawan Jawa Pos di Jakarta (email : ridlwan@jawapos.co.id )

Allah Maha Sayang sama aku

AlhamduliLlah wa laa ilaaha illaLlah waLlahu akbar.

Sungguh besar nikmat dan kasih sayang Allah diberikan kepadaku dan keluargaku.

Di tengah kegalauan dan keresahan hati memikirkan banyaknya kesulitan ekonomi yang tengah aku hadapi, Allah menunjukkan kuasaNya yang mengingatkanku untuk selalu khusnudzon dan istiqomah.

Dua bulan yang lalu menjelang masa bayar kredit motor jatuh tempo, uang yang ada di dompet hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sementara di rekening tabungan hanya tersisa sedikit di atas saldo minimal.

Dek, untuk bayar kredit bulan ini mas tak cari pinjaman, ya?” tanyaku ke istri meminta persetujuannya.

Istriku hanya diam tak menjawab. Aku melihat ada seraut kesedihan di balik wajah diamnya kala itu.

Matahari mulai beranjak tinggi menghangatkan dinginnya Kota Batu. Dari pintu depan terdengar ketukan yang saat kubuka muncul wajah penuh kelembutan dan kasih sayang dari ibu yang melahirkan dan membesarkanku. Baru duduk di kursi ruang tamu, ibuku menyampaikan tujuan utamanya datang ke rumah kontrakanku.

Le, kemarin ibu lihat di TV ada pengumuman agar segera menukarkan uang lama dengan yang baru karena akan tidak berlaku lagi. Ibu punya sejumlah uang ratusan ribu lama. Tolong kamu tukarkan ke bank, nanti kembalikan ke ibu yang satu juta, sisanya buat kamu,” kata ibuku sembari menyerahkan gulungan uang yang dimaksud.

Aku buka gulungan itu dan aku hitung, ternyata sisa yang mau diberikan ibu kepadaku persis sejumlah uang yang aku butuhkan untuk membayar kredit motor. Bergegas aku ke belakang menemui istriku yang kulihat tengah merapikan jilbabnya di depan cermin karena akan pergi mengisi taujih pengajian ibu-ibu di kampung sebelah. Dari belakang aku rangkul pundak istriku dan kucium kepalanya dan kuucapkan rasa syukur atas rizeki Allah yang datang tanpa kami perkirakan sama sekali. Tanpa aku ceritakan, istriku pasti tahu karena di rumah yang kecil ini tentunya dia mendengarkan pembicaraanku dengan ibu dari dalam kamar yang hanya disekat oleh triplek tipis. Dari cermin aku lihat ada mata yang sembab menahan tangis.

-oOo-

Tadi malam selepas isya’ seperti biasa aku yang memasukkan motor ke dalam rumah. Setelah seharian dipakai istri kuliah dan aktifitas yang lain, motor diparkir di teras rumah yang jarak ke jalan depan rumah hanya dibatasi pagar dan parit yang jauhnya tidak sampai 3 meter. Ketika kunci kontak akan aku pasang, aku lihat sesuatu di lubang kunci. Aku ambil dengan ibu jari dan jari telunjukku, setelah aku amati ternyata itu potongan besi tipis. Aku tersadar bahwa motorku satu-satunya yang kreditannya masih kurang 6 kali lagi hampir saja dicuri orang.

Bergegas aku masuk ke rumah dan kuserahkan potongan besi itu ke istriku.

“Mulai besok motor langsung masukkan rumah,” dengan sedikit menahan kaget aku lanjutkan kalimatku dengan beragam kata agar istriku lebih hati-hati, karena tidak berapa lama pindah ke kontrakan ini dia juga pernah lupa mencabut kunci kontak dan meninggalkan motor di depan rumah begitu saja.

Istriku terlihat shock.

Setelah merasa cukup memberikan nasehat, aku kembali ke depan. Aku coba memasukkan kunci kontak ke lubangnya dan baru aku sadar posisi stang motor sudah tidak terkunci. Ternyata kunci kontak hanya bisa masuk ¼ bagian saja, aku pikir di dalam lubang masih ada patahan besi yang lain. Setelah aku masukkan rumah dan aku sorot dengan lampu senter, ternyata kontak sepeda motorku telah rusak. Lubang dari depan sampai bagian dalam sudah tidak lurus lagi, itulah kenapa kuncinya tidak bisa masuk seluruhnya.

Jumat, Desember 19, 2008

Kiss Goodbye, Mr President


Jawa Pos, Jum'at, 19 Desember 2008

Amerika Serikat merupakan negara-bangsa yang mempunyai musuh terbanyak di dunia. Para presidennya pun adalah sekumpulan petinggi nasional yang paling sering dikecam penghuni muka bumi. Kita tidak tahu pasti, apakah ada presiden Amerika yang pernah dicoba dihabisi dengan cara disantet, diteluh, diguna-guna, atau cara-cara klenik lain. Tapi, tak dapat dimungkiri, negeri Paman Sam itu tercatat sebagai negara dengan jumlah presiden yang paling banyak dibunuh.

Presiden Abraham Lincoln tewas ditembak simpatisan Konfederasi, John Walker Booth. Nyawa James A. Garfield pun tak tertolong, setelah ditembus peluru pengacara bernama Cahrles J. Guiteau. Presiden lainnya, William McKinley, juga tewas di tangan anarkis, Leon Czolgosz. John F. Kennedy setali tiga uang, habis riwayatnya dirobek peluru karyawan biasa, Lee Harvey Oswald. Sebelumnya, Kennedy juga nyaris tewas dihajar oleh pelaku bom bunuh diri.

Booth, Guiteau, Czolgosz, dan Oswald bukan orang-orang non-Amerika. Itu artinya, Amerika bukan hanya menghadapi musuh dari negara-negara lain, tetapi juga dibenci warganya sendiri.

Jika ditambah dengan nama-nama presiden yang mengalami percobaan pembunuhan, deret nama di atas akan lebih panjang. Ada Andrew Jackson, Theodore Roosevelt, Franklin D. Roosevelt, Harry S. Truman, Richard Nixon, Gerald Ford, Jimmy Carter, Ronald Reagan, George Bush, dan Bill Clinton.

Belum selesai. Zachary Taylor dan Warren G. Harding adalah dua presiden Amerika yang kematiannya diduga juga akibat pembunuhan. Selain itu, jika dokumen-dokumen rahasia dinas keamanan Amerika dibuka lebar-lebar, sangat mungkin ada sekian banyak nama presiden Amerika lagi yang pernah berhadapan dengan ancaman dan percobaan pembunuhan.

Bagi manusia, memang tidak ada yang menyenangkan, apakah itu ditembaki peluru atau dilempari sepatu. Tapi, sebagai presiden, walaupun berisiko mati, ditembus peluru musuh rasanya tetap lebih terhormat daripada ditimpuki sepatu.

Saat seorang presiden tewas dirobek peluru, dunia akan terperanjat. Memang mengenaskan, tapi setidaknya masyarakat akan tercenung, "Butuh butiran pelor untuk menghabisi nyawa seorang kepala negara." Jika dikemas lewat propaganda politik yang dahsyat, si presiden (baca: si korban, si pecundang) bisa beralih paras menjadi pahlawan. Citra adidaya Amerika pun kian membahana.

Aksi-aksi pembunuhan atas presiden Amerika juga telah mengilhami para seniman dalam berkreasi. Lagu dan film tentang tragedi yang menimpa kepala negara Paman Sam tak terbilang banyaknya. Jadi, ringkas cerita, sepanjang penembakan atas diri si presiden dilakukan dengan menggunakan peluru, profil si presiden justru melambung. Kejadiannya pun menginspirasi berbagai kalangan.

Mempermalukan

Lain situasinya kalau si presiden sebatas dilempari sepatu. Benda yang dikenakan pada bagian paling bawah tubuh manusia justru disasarkan ke bagian tubuh paling atas manusia. Dengan melayangkan sepatu, si pelaku bukan ingin menghabisi nyawa si tuan presiden yang terhormat, tapi sebatas ingin mempermalukan manusia memuakkan di hadapannya. Dunia pun bukan terguncang, justru tertawa terpingkal-pingkal. Mau dikosmetik dengan pulasan seelok apa pun, si presiden tetap terkesan sebagai dakocan. Dakocan dengan spesialisasi jurus mengelak, setidaknya.

Itu yang terjadi pada Presiden Amerika Serikat George Walker Bush. Dua sepatu yang ditimpukkan ke arah Bush ibarat bingkisan akhir tahun sekaligus kado akhir masa jabatan yang luar biasa menyakitkan hati.

Kejadian pelemparan sepatu di Baghdad seperti antitesis terhadap realita yang digambarkan Russell F. Farnen (1990), akademisi dari University of Connecticut. Dalam tulisannya, Farnen menyebut Amerika Serikat sebagai negara dengan sejarah yang dipenuhi darah kekerasan. Sejak diproklamasikan sebagai negara baru, sepertiga waktu di antaranya ditandai oleh keterlibatan negara ini dalam ajang perang, baik yang dideklarasikan maupun yang tidak dideklarasikan. Dan, hingga kini, adalah Amerika negara penjual senjata terbesar di dunia. Perkasa nian!

Sepantasnya, bukan hanya dunia yang terpingkal-pingkal setiap kali menyaksikan tayangan ulang tentang dua sepatu yang menyasar jidat Bush. Rakyat Amerika Serikat yang cinta damai juga punya alasan untuk bersulang, karena itulah trofi paling indah bagi presiden yang selama perang Iraq saja telah membuat 4.119 tentara Amerika mati sia-sia dan hampir tiga puluhan ribu lainnya luka-luka.

Ya, untuk presiden sekaliber Bush, alas kaki tampaknya lebih pantas ketimbang timah panas. Presiden terburuk sepanjang sejarah negeri 'adikuasa' itu memang tidak perlu dikirim ke alam baka. Membuat dia sebagai sosok paling hina di dunia pun sudah lebih dari cukup, rasanya.

So kiss my ... shoes, Mister Bush!

Reza Indragiri Amriel, mantan Ketua Delegasi Indonesia Program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia

Selasa, Desember 16, 2008

Aduh..!! Ada Yang Tak Kenal Siapa George W. Bush Sebenarnya

Baru saja meletakkan nampan makan siang di meja kantin tempatku bekerja. Belum sempat memasukkan suapan pertama, televisi yang tidak jauh dari tempat dudukku menyajikan kelanjutan berita pelemparan sepatu oleh jurnalis Irak ke arah Presiden Amerika George W. Bush. Beberapa pasang mata juga menyaksikan dan sekilat kemudian terdengar komentar beberapa orang dari yang serius sampai yang dengan nada canda. Namun satu yang membuatku kaget.

“George Bush salah apa sih, Pak?” tanya gadis berjilbab pendek yang duduk tidak jauh dari tempatku sambil melirik televisi yang ada di belakangnya.

“Masak kamu ndak tahu?” kujawab pertanyaannya dengan pertanyaan balik.

Semula ketidaktahuannya aku anggap hanya sekitar momen pelemparan sepatu itu saja, ternyata setelah aku tanya lebih jauh, bisa dikata dia tidak tahu sama sekali sepak terjang Presiden Amerika ke-43 itu selama hampir 8 tahun masa kekuasaannya.

Ironi.

http://www.youtube.com/watch?v=VFX-dKpcDz8
http://www.youtube.com/watch?v=ovoTgUCf7_E
http://www.youtube.com/watch?v=NuyzA5dT5Kk

Rabu, Desember 10, 2008

Pemborosan ala Telkom Flexi


“Kartu berlangganan TelkomFlexi anda akan memasuki masa tenggang pada tanggal........,” suara merdu perempuan menyapa lewat handphone CDMA-ku.

Masa tenggang yang disebut “Karyawati” PT. Telkom itu masih 9 (baca: sembilan) hari lagi...!!! Dan itu akan selalu terdengar setiap hari saat pertama mencoba melakukan panggilan telepon sampai masa tenggang diperpanjang dengan “memberi makan” pulsa.

Risih juga rasanya kalau dalam sembilan hari ke depan harus mendengarkan warning itu. Ada kesan bahwa selaku konsumen dipaksa untuk segera belanja pulsa. Ya, kalau memang pulsa sudah mau habis, tapi kalau nilai rupiah masih cukup untuk kebutuhan sampai masa tenggang berakhir, tentu sebuah pemborosan tersendiri.

Belum lagi penggunaan energi listrik untuk mendengarkan pesan berdurasi 10 detik lebih, meskipun hanya beberapa mW, tapi kalau diakumulasi dalam hitungan hari tentu menambah pemborosan itu sendiri.


Selasa, Desember 02, 2008

Pemutih Kulit

Tadi malam sepulang kerja Nasywa menagih janjiku untuk membelikan jagung bakar. Setelah merendam seragam kerja yang akan aku pakai hari Rabu nanti dan belum sempat aku cuci di hari libur kemarin, berdua aku dan Nasywa pergi ke Pasar Plastik, sebutan deretan warung tenda di dekat alun-alun Kota Batu. Ternyata pedagang jagung bakar yang dulu mangkal di tengah-tengah Pasar Plastik tidak aku temukan. Akhirnya aku menuju ke arah barat Jalan Panglima Sudirman dan aku temukan pedagang jagung bakar di pojok SDK Sang Timur.

Selesai membeli jagung bakar dalam perjalanan pulang mampir ke toko kelontong untuk membeli diapers. Setelah mendapatkan yang aku cari, bergegas aku keluar toko menuju arah motorku terparkir. Belum sempat beranjak jauh dari dalam toko, Nasywa balik kanan menghampiri etalase toko.

“Nanti kalau abi sama ummi’ sudah meninggal aku mau beli ini,” kata Nasywa sambil menunjuk produk pemutih kulit yang sering diiklankan di televisi.

Setelah bisa menguasai diri karena sempat terkejut dengan kalimat Nasywa barusan, aku bertanya.

“Kenapa harus menunggu abi dan ummi’ meninggal untuk membeli itu?”

“Ya biar abi sama ummi’ nggak tahu,” jawab Nasywa.

“Terus buat apa beli itu?” kembali aku bertanya.

“Biar tambah putih.”