Minggu, Mei 11, 2008

NU dan Salah Kaprah

Jawa Pos, Minggu, 11 Mei 2008,

NU dan Salah Kaprah
Kurniawan Muhammad

Romli, kiai muda di sebuah pesantren kampung, suka sekali dengan humor dan pelesetan. Buku-buku tentang itu sengaja dia koleksi. Saat mengajari santrinya, sering dia menyelipkan kisah-kisah humor yang dibacanya sebagai selingan.

Suatu ketika, dia kirim SMS ke saya: "NU sekarang benar-benar sudah berubah…."
Saya membalas, "Berubah apanya kiai?" Tak berapa lama, dia kirim SMS lagi: "NU = Ndampingi Umara… NU = Nyalon Umara…."

Umara adalah pemimpin pemerintahan. Atau, dapat juga dikiaskan sebagai kepala daerah. Ndampingi Umara bisa juga diartikan mendampingi kepala daerah. Nyalon Umara berarti mencalonkan diri menjadi kepala daerah.

Sengaja dia membesarkan huruf N dan U dalam SMS-nya, dengan maksud untuk menyindir NU, yang belakangan ini sebagian elite-elitenya lebih sibuk ngurusi pilkada (pemilihan kepala daerah) ketimbang ngurusi umat.

Ada yang maju digandeng sebagai wakil (wakil bupati, wakil wali kota, dan wakil gubernur). Ada juga yang sangat pede maju sebagai kepala daerah (bupati, wali kota, dan gubernur).

Dalam pemilihan gubernur di Jawa Timur, elite-elite NU yang maju hampir lengkap. KH Ali Maschan Moesa, sebelumnya ketua PW NU Jatim, digandeng sebagai calon wakil gubernur, mendampingi Soenarjo, wagub sekaligus ketua DPD Golkar Jatim.

Saifullah Yusuf, ketua umum GP Ansor, digandeng Soekarwo, Sekdaprov Jatim. Khofifah Indar Parawansa, ketua umum PP Muslimat, maju sebagai calon gubernur, menggandeng Mudjiono.

Mungkin tidak ada pilgub di provinsi lain, yang elite-elite NU-nya sebergairah maju dalam pilkada seperti di Jatim.

Di PC NU Nganjuk lebih seru. Antara Rais Syuriah dan ketua Tanfidziyah sama-sama punya syahwat maju dalam pilkada. Keduanya pun sama-sama digandeng menjadi wakil bupati.

Banggakah warga NU jika para elitenya maju dalam pilkada? Pertanyaan ini pernah saya sampaikan kepada Kiai Romli yang menurut saya sangat NU itu.

Dia tak langsung menjawab. Tapi, malah menceritakan kepada saya tentang sebuah riwayat (hadis). Disebutkan dalam riwayat itu, suatu ketika Abbas bin Abdul Mutholib mendatangi Rasulullah SAW, yang juga keponakannya.

"Ya Rasulullah… Beri aku kekuasaan," kata Abbas.
Rasulullah menjawab, "Paman, embusan napas yang membuatmu hidup adalah lebih baik dari segala kekuasaan yang akan membawa kerugian dan penyesalan kelak di hari akhir. Kalau Paman dapat menghindari kekuasaan, lakukanlah…."

Mendengar cerita ini, saya bertanya lagi kepada Kiai Romli, "Mengapa para kiai NU belakangan malah berlomba-lomba mengejar kekuasaan?"

Dia hanya tersenyum. "Saya nggak akan komentar. Kalau saya ngomong keras, dianggap saya cemburu karena nggak kebagian… Jangan-jangan, kalau saya ditawari (maju pilkada), saya juga nggak kuat nahan."
***
Dalam sejarahnya, NU agaknya memang tak bisa jauh dari hiruk-pikuk politik. NU pernah menjadi partai politik dan perolehan suaranya cukup signifikan dalam Pemilu 1955 (urutan ketiga dengan perolehan suara sekitar 18 persen). Sebagai ormas terbesar di Indonesia, kekuatan NU selalu diperhitungkan dan selalu menjadi incaran para pelaku politik.

Apalagi di era sekarang ini, di mana partisipasi politik rakyat bisa dilakukan secara langsung.

Ketika Megawati Soekarnoputri menggandeng KH Hasyim Muzadi yang saat itu ketua umum PB NU untuk maju dalam Pilpres 2004, sesungguhnya tidak terlepas dari asumsi bahwa NU adalah bagian dari kekuatan penting yang harus dirangkul, jika ingin meraih kemenangan. Asumsi seperti itu sampai sekarang masih diyakini kevalidannya meski gagal dibuktikan oleh Megawati.

Menganggap NU masih sebagai "aset politik" yang sangat berharga, disadari atau tidak, telah membuat perilaku sebagian elitenya menjadi salah kaprah. Dulu, di setiap muktamar NU ataupun konferensi di tingkat cabang dan wilayah, para kiai berebut menolak jabatan (karena takut tidak amanah). Kini, yang terjadi adalah sebaliknya.

Untuk itu, muncul kesan bahwa jabatan struktural di NU sama empuknya dengan jabatan struktural di parpol. Karena itu, untuk meraih jabatan struktural di NU, caranya pun sama dengan meraih jabatan struktural di parpol. Benarkah?

Padahal, orientasi antara ormas dan parpol jelas sangat berbeda. Ormas berorientasi kepada umat, sedangkan parpol lebih pada kekuasaan.

KH Muchit Muzadi, salah satu kiai sepuh NU yang disegani, suatu ketika pernah menyindir perilaku para elite NU yang mulai "bergeser" itu. Kata dia, jika dulu, orang masuk NU karena ingin ndandani umat (memperbaiki umat), dalam perkembangannya, orang aktif di NU banyak yang sekadar nunut urip (menumpang hidup).
***
Jika negara ini diibaratkan sebuah taman, NU adalah bunga yang mencolok warnanya dengan mahkota yang sedap dipandang. Taman
itu akan kehilangan keindahannya jika sang bunga layu, apalagi sampai mati.

Agar bunga tetap indah warnanya dan tetap terjaga kesegarannya, yang mengurus bunga haruslah orang yang benar-benar telaten mengurus bunga. Tidak lupa menyiramnya dengan air setiap hari serta tidak lupa memberi pupuk.

Sudah saatnya para elite NU lebih memikirkan umat ketimbang hiruk-pikuk politik. Pekerjaan rumah yang jelas-jelas masih harus ditangani di sebagian besar warga NU adalah: problem kemiskinan dan kesenjangan pendidikan.

Warga NU mulai saat ini harus pinter-pinter memilih tokohnya. NU harus diurus oleh orang yang serius berkomitmen untuk memperbaiki umat.(kum@jawapos.co.id)

Senin, April 28, 2008

Kartini di Taman Kota

Radar Bromo, 27 April 2008

Kartini di Taman Kota

Kaji Karno – Seniman dan Budayawan Pasuruan

Di keredupan lampu-lampu Taman Kota, nyaris muram, di sela-sela desir angin malam yang berkolaborasi dengan suara cekikikan di sana-sini, "Kartini-Kartini" yang berusia es-em-pe telah menjadi modern, dipangku -oleh tentu saja- laki-laki pasangannya yang juga berusia es-em-pe. Ya Allah…

Persamaan hak telah dipraktikkan. Emansipasi telah menemukan bentuknya. Siapa yang protes, akan dihardik oleh "nyonya-nyonya modern". Indonesia bukan negara agama (Islam), oleh karenanya dalam beragama, kefanatikan (terlalu cinta kepada Islam) tidak diperkenankan. "Dilarang melawan setan".

"Wanita dijajah pria sejak dulu," Begitu sebaris syair lagu berjudul Sabda Alam yang dilantunkan Rien Jamaien yang ditingkah oleh irama jazz.

Nasib jelek wanita sepanjang zaman tidak pernah habis diperbincangkan, digubah dalam syair lagu, puisi, novel, dan sebagainya itu juga melahirkan perasaan simpati maupun empati (juga) sepanjang zaman. Biang keladi dari semua nasib jelek wanita adalah akibat dari system patriarkhat, sistem kemasyarakatan yang didominasi oleh kaum laki-laki. Itupun ternyata tidak benar. Sebab, banyak gedibal perempuan yang dianiaya oleh daoke-nya yang juga berjenis perempuan.

Negeri-negeri Skandinavia adalah negeri yang paling bersemangat memperjuangkan nasib perempuan. Untuk pengeluaran sector public spending (tunjangan anak, tunjangan-tunjangan sosial, sekolah, dan terutama day care center) pemerintah merogoh kocek GNP hampir mencapai 50 persen. Bandingkan dengan anggaran pendidikan Indonesia sebesar 20 persen, itupun cuma wacana.

Untuk melindungi perempuan dari kewajiban mengasuh anak-anak, pemerintah negara-negara Skandinavia membangun day care center (tempat penitipan anak) secara besar-besaran. Memang dengan adanya TPA tersebut perempuan telah bebas dan memperoleh kesetaraan gender. Tetapi kemudian tidak lucu ketika yang ngurus tetek bengek anak-anak di TPA adalah………perempuan juga. Waaaa

Untuk perkara perempuan, pemerintah Indonesia yang paling beruntung. Sebab, para perempuannya sudah bebas sak karepe dewe, tanpa system welfare state, dan tidak ’otak-atik’ GNP.

Kawasan yang oleh kebanyakan orang Pasuruan disebut Taman Kota itu sebenarnya bukan taman kota. Justru Taman Kota asli terletak di depan kantor polisi bagian lalu-lintas, utara rumah makan Sarinah.

Di zaman Pemerintahan Kolonial Belanda, tempat itu (emak saya menyangka taman-kota) merupakan bagian satu paket dengan gedung Harmonie (sekarang gedung Yayasan Untung Suropati). Sesuai dengan nama klub pejabat tinggi Belanda, Harmonie, diresmikan pada tahun 1815 oleh Raffles. Di Hindia Belanda, gedung Harmonie hanya dibangun di dua kota saja yaitu di Batavia, dan di Pasuruan. Weeehh….!

Bagaimana? Ada rencana dirobohkan untuk dibikin ’plaza untung suropati’?

Setiap gaya hidup para elite pasti memerlukan pranata-pranata sosial yang berbeda dengan kaum awam. Pejabat Belanda mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang kelak ditiru oleh "kaum hidung-pesek".

Setiap malam minggu berkumpul di gedung Harmonie bermain bola-sodok (biliard). Dari istilah bola-sodok, nama gedung Harmonie mengalami morfologi bahasa menjadi gedung "kamar-bola". Sedangkan noni-noni dan sinyo-sinyo pada malam hari dansa-dansi di tempat yang disangka taman-kota itu. Siang harinya dipergunakan oleh Ladies Lawn Tennis Club untuk -tentu saja- bermain tennis.

Tidak di zaman doeloe maupun di zaman sekarang, baik pejabat londo mau pejabat Melayu, pasti suka plesir. Karena di zaman londo tempat seperti Tretes, dan Batu Malang belum lahir, maka pada setiap akhir bulan para kerabat pejabat plesir ke kota tertinggi di Jawa, yaitu Tosari Pasuruan.

Nah, kembali ke Taman Kota. Jika sekarang dipakai untuk ’pacaran anak baru gede’ pada hemat saya, rasanya kok dengan begitu generasi hidung pesek sawo matang melanjutkan budaya bangsa kulit putih dan berhidung mancung yang pernah mengeksploitasinya. Hanya bedanya, noni-noni Belanda bergaun panjang yang dapat menyapu lantai dansa.

Betulkah yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini tentang persamaan hak itu agar perempuan itu bebas tanpa dibatasi oleh kaidah-kaidah, norma, nilai budaya, dan agama, termasuk cekikikan di Taman Kota? Atau wanita bebas berpakaian, dan tidak dibatasi oleh Undang-Undang Pornografi, dan Pornoaksi (rencananya)? Di Barat yang kalau kita lihat di film-film begitu bebasnya, ternyata masyarakatnya dapat membedakan antara gaun pelacur dengan gaun perempuan baik-baik. Wanita terdidik tidak akan berdandan seperti ’pelacur’. Di Amerika ada polisi-susila. Di Indonesia, dan di Pasuruan kumahak, daramang?

Peringatan hari lahir Raden Ajeng Kartini cuma yahanno, hanya untuk pantes-pantesan, dan materi acaranya tidak ada hubungannya dengan yang diperjuangkan Kartini, baik dalam pengertian mathesis apalagi memisis maupun semiosis.

Ambillah nyawaku tetapi jangan ambil penaku Ujar R.A Kartini. Beliau memperjuangkan agar perempuan Indonesia pinter, gemar membaca, bermartabat, bermoral, mempunyai harga diri. Dalam awal-awal korespondensinya dengan gerakan wanita Eropa memang Kartini sangat radikal, seakan-akan melawan kodrat kewanitaannya, dan dalam tingkat tertentu Kartini keblabasan dengan mengatakan: "….Alangkah baiknya jika tidak ada agama"

Tetapi setelah kawin dengan Bupati Rembang yang mempunyai 7 anak, dan tiga istri, seperti yang ditulisnya kepada nyonya Abendanon, Kartini berbalik menjadi ’perempuan’. Kartini begitu bahagia menunggu kedatangan ’jabang-bayi’. Hari-hari penantian itu diisinya dengan menyulam, menyiapkan pakaian bayi, ’popok’, ’grendo’, dan lain sebagainya. Kartini menyiapkan generasi yang bermutu, ber SDM tinggi sekalipun harus mengorbankan egoismenya, meninggalkan, dan menghapus pandangan-pandangan radikalnya. Kesetaraan gender Kartini didasari oleh rasa kasih-sayang, bukan kesetaraan yang didasari oleh rasa ’kebencian’ terhadap laki-laki hanya lantaran dilahirkan berjenis laki-laki.

”Kartini” sempat menangis di taman-kota Pasuruan menjelang subuh. Melihat sekeliling, melihat ’guru-guru perempuan’, perempuan-perempuan di kantor-kantor pemerintah, mengamati perempuan yang menjadi ’panitia hari Kartini’, tidak satupun dari mereka yang meneruskan kegemaran Kartini yang suka membaca. Sementara, ‘kartini-kartini’ berusia es-em-pe masih cekikik-an di ‘taman-kota’ merasa aman.

Dan memang, di Pasuruan tidak ada polisi amar ma’ruf nahi munkar.

Jumat, April 11, 2008

Semangat Baru

Selepas maghrib sampai menjelang isya’ kemarin malam tidak henti-hentinya Umar “pamer” sudah mulai bisa berdiri sendiri tanpa berpegangan...

Jatuh... bangun lagi... jatuh... bangun lagi...

Apalagi ada dorongan semangat dari aku, ummi' dan kakaknya…

“Ayo, dek, berdiri... berdiri...!!!” bergantian kami bertiga menyemangatinya.

Sabtu, Maret 29, 2008

Permintaan Yang Mahal

Pagi tadi ada wawancara orang tua calon wali murid di TKIT Bina Insan Cendekia dimana Nasywa kami daftarkan. Karena istriku harus mengajar murid-muridnya, maka kami datang agak terlambat dari jadwal pukul 08.00.

Menjelang pukul 09.00 wawancara untuk aku dan istriku selesai.

“Nasywa ikut Ummi’ ke SD apa pulang sama Abi?” tanyaku ke Nasywa saat motor mau aku jalankan.

“Di rumah sama Abi,” jawab Nasywa.

Setelah mengantarkan istriku ke tempatnya mengajar, aku dan Nasywa langsung pulang ke rumah. Sampai di rumah aku lihat sesuatu tergeletak di atas meja ruang tengah dan setelah aku dekati ternyata kartu pos yang dikirim keponakanku, Dani, dari tempat dia tinggal sekarang, Perth-Australia. Selesai aku baca isi suratnya, kartu pos itu langsung aku taruh di atas kulkas dekat pesawat telepon.

Jam dinding baru saja lepas dari pukul 5 sore. Istriku tengah ada acara pengajian di kampung sebelah. Aku di rumah menjaga Nasywa dan Umar.

“Bi, lapar,” rengek Nasywa.

“Cuma ada nasi, lho, Nduk. Sotonya tadi habis. Kita telpon Ummi’, yuk, biar nanti sebelum pulang dibelikan masakan,” kataku.

Nasywa mengangguk.

“Nasywa yang nelpon sendiri, ya,” pintaku.

Kembali Nasywa mengangguk dan berdua bergegas menuju arah kulkas dimana pesawat telepon ada di atasnya. Aku ambilkan kursi plastik untuk pijakan Nasywa. Dipencetnya urutan nomor Flexi Ummi’nya yang dia hapal di luar kepala. Aku juga ikut mendengarkan dengan mendekatkan telingaku ke kepala Nasywa, tidak ada nada sama sekali, ternyata Nasywa mencet tombolnya kurang keras. Aku bantu mengulang memencet tombol telepon. Dan setelah tersambung dan menyampaikan maksudnya, ditutupnya kembali gagang telepon.

“Ini apa, Bi?” tanya Nasywa sambil memegang kartu pos yang memang baru dia lihat sekarang.

“Kartu pos, dari Mas Dani,” jawabku.

Diperhatikannya gambar yang ada di kartu pos itu.

“Ini hewan apa, Bi?” kembali Nasywa tanya sambil menunjuk gambar sebelah kanan.

“Koala, eh bukan, kangguru,” jawabku.

“Bi, kapan-kapan kita berenang di sini, ya,” kata Nasywa saat menunjuk gambar sebelah kiri.

“Insya Allah, amiiinnnn...,” jawabku singkat sambil ketawa dan bergumam dalam hati, "Mahal amat permintaanmu, Nduk."

Sabtu, Maret 22, 2008

Memang Harus Begitu Jadi Anak Abi

Mandiri dan berani.


Itulah dua hal dari sekian banyak nilai-nilai positif yang ingin aku dan istriku tanamkan ke Nasywa dan adik(-adik)nya. Mulai dari hal sederhana, mandi dan ganti baju sendiri misalnya, sampai nanti ketika tiba waktunya, misalkan, harus membenahi kamar tidurnya sendiri.

Aku dan istriku tanamkan keberanian, seperti pernah di usia 3,5 tahun, Nasywa dibekali sejumlah uang dan di suruh masuk ke mini swalayan sendiri untuk belanja jajanan yang diinginkannya, sementara aku dan istriku mengawasi dari luar.

Nduk, abi mau mengantarkan sepeda motor Pak Wartono sekalian ummi’ mau pinjam LCD Projector, ikut, gak?” tanyaku ke Nasywa yang lagi asik main puzzle di dalam tenda yang baru dibeli dua hari lalu.

“Nggak, Nasywa di rumah saja,” jawab Nasywa.

“Dedek juga ikut. Nasywa di rumah sendiri berani, tah?” kembali aku tanya.

“He-e...,” jawab Nasywa singkat.

“Pintu abi kunci dari luar, ya?”

“Iya.”

Sore ini kali kedua Nasywa berani ditinggal sendirian di rumah. Yang pertama senin pekan yang lalu ketika pagi hari Umar dan ummi'nya mengantarkan aku ke rumah Ade, teman kerjaku, untuk bareng-bareng berangkat kerja. Karena dia minta ikut tapi belum mau mandi, maka ketika aku berikan pilihan boleh tidak segera mandi tapi tinggal di rumah, Nasywa memilih tinggal di rumah.

Hampir setengah jam kemudian kami bertiga pulang. Aku buka pintu rumah dan beriringan dengan istriku mengucapkan salam.

Bukan jawaban salam yang dilontarkan Nasywa, tapi teriakan Nasywa memanggilku dari dalam kamar mandi.

“Abiii... sudah...!!”

“Nasywa ngapain?” sahutku.

“Ee’...!”

Segera aku menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur depan. Sebelum masuk sempat aku lihat kursi plastik ada di bawah switch untuk menyalakan lampu kamar mandi. Rupanya tadi Nasywa mengambil kursi dari kamar belakang dan menggunakannya untuk meraih tombol lampu yang memang jauh di atas jangkauannya. Sampai saat ini, untuk finishing BAB Nasywa memang masih perlu dibantu.

Belum sampai masuk kamar mandi dan belum terlihat Nasywa sempat aku tanya.

“Tadi ngambil kursi dan nyalakan lampu sendiri?”

“Iya,” jawab Nasywa singkat.

“Hebat anak abi,” pujiku.

Satu langkah lagi menjelang pintu kamar mandi kembali aku dengar suara lantang Nasywa.

“Ee’-nya satu jatuh di celana...!”

Wadoww...

Senin, Maret 17, 2008

Jejak Pertama

Baru saja masuk rumah setelah seharian kerja. Nasywa sedang main di depan rumah tetangga, sedang istriku dan Si Kecil Umar ada di ruang TV.

Sembari melepas lelah aku ikut duduk di karpet ruang TV sambil nonton OB. Tidak berapa lama Nasywa masuk rumah dan langsung duduk di pangkuanku.

Tiba-tiba dengan suara agak keras istriku bilang, “Ah... bisa... bisa...!!!”

Pandanganku yang semula fokus ke Nasywa langsung menoleh ke arah istriku dan Umar. Ternyata untuk pertama kalinya, beberapa saat Umar bisa berdiri tanpa berpegangan. AlhamduliLlah.

Senin, Maret 03, 2008

Today is our special day


Happy 6th anniversary to you and me…

Sabtu, Maret 01, 2008

Dokter Djihad

Pagi ini aku tengah memandikan Umar saat dari belakangku istriku memanggilku.

“Mas..!”

“Apa”

“Kemarin pulang sekolah Nasywa cerita kalau besar nanti ingin menjadi dokter gigi, terus ada temannya yang pengin jadi dokter anak.”

Sejenak istriku menghentikan ceritanya.

“Terus adek jelaskan, iya… dokter memang ada macam-macam. Ada dokter gigi, dokter anak, dokter bedah… Belum selesai adek melanjutkan Nasywa memotong.”

“Dokter Djihad…,” kata Nasywa.

Dokter Djihad adalah nama Dokter Spesialis Anak yang sempat merawat Nasywa sewaktu kena typhus di 3 minggu pertama ramadhan kemarin.

Rabu, Februari 27, 2008

Cemburu Itu Masih Ada

Membaca beberapa buku dan artikel-artikel dari media, khususnya tentang bayi dan balita, sering aku dapati hal yang membahas rasa cemburu yang timbul pada diri kakak atas kelahiran adik baru. Demikian pula dengan Nasywa.

Meskipun aku dan istri sering mengarahkan Nasywa untuk bisa menerima kehadiran adiknya sebagai sebuah anugerah yang akan membawa kesenangan bagi dia, tapi terkadang gambaran-gambaran yang aku dan istriku berikan tidak bisa begitu saja dia terima, terlebih saat rasa ngalem-nya muncul. Seperti halnya malam ini.

Selepas isya’ Umar sudah tertidur pulas di ruang TV dan Nasywa sudah mulai terlihat mengantuk.

“Ayo dikeloni Abi, tah?” tanyaku.

“Nggak, sama Ummi’ aja,” jawab Nasywa.

Segera istriku membimbing Nasywa ke kamar tidur.

“Tapi Ummi’ nggak mau pakai main dulu, langsung tidur,” kata istriku ke Nasywa yang dijawab dengan anggukan.

Aku sendiri tetap di ruang TV sambil menemani dan menjaga Umar dari gigitan nyamuk. Selang seperempat jam kemudian masih aku dengar suara Nasywa yang ternyata tetap asik bermain. Tidak lama kemudian istriku kembali ke ruang TV, sementara Nasywa masih di kamar tidur.

“Mas..,” sapa istriku.

“Apa?”

“Itu tadi di kamar sambil tak peluk adek bilang ke Nasywa, Ummi’ sayang sama Nasywa. Terus dia tak tanya balik, Nasywa sayang juga sama Ummi’..?”

Istriku menata duduknya dan melanjutkan ceritanya.

“Nasywa menjawab, sayang, apalagi kalau gak ada dedek..”

Aku tertawa kecil mendengar cerita istriku. Dalam benakku juga berfikir, ternyata masih banyak yang harus aku dan istri lakukan untuk bisa memberi pengertian kepada Nasywa betapa sangat berartinya kehadiran Umar bagi semuanya.

Minggu, Februari 17, 2008

Walaahhh...

Pagi ini selesai memandikan Umar dan aku lanjutkan memakaikan pakaian di kamar depan, aku lihat Nasywa juga telah selesai dimandikan Ummi’-nya.

Tiba-tiba dari atas genting rumah terdengar anak kucing mengeong-ngeong.

“Lho, suara apa itu?” tanya Nasywa.

“Suara kucing,” jawab istriku.

“Kok kayak suaranya Abi,” respon Nasywa.

Aku yang mendengar percakapan itu langsung tertawa dan berkomentar.

Nglamak, masa suaranya kucing mengeong disamakan dengan suara Abi?”